Why Treasure Chest-Trash Can?
Because all I post here is all I think about, all I wish, all I've done, all I wanna share. Some could be priceless, evergreen, post-worthy, some could be just so-so, just for the sake of my pleasure, but some could be super duper trashy or controversial.
At the end of the story, this Tumblr can be a treasure chest. Otherwise, a putrid trash can.
And who am I?
It was 'Fitria Rahmadianti' written on my birth certificate, but my parents called me 'Ema' ever since I was a newborn baby.

Text

Akhirnya gw jadi nonton ‘The Raid’ bareng Iif di Planet Hollywood, Senin (2/4) lalu. Gw udah penasaran sama film ini sejak diputer di INAFF 2011, tapi keabisan tiket T_T. Pas akhirnya film ini dirilis untuk umum sejak 23 Maret 2012, gw selalu pengen nonton, tapi selalu nggak jadi atau nggak sempet. Perlahan-lahan, orang-orang udah pada nonton dan gw belom juga. Gw gelisah. Untung akhirnya tercapai juga ngidam gw.

The Raid Redemption

Gw benci film yang penuh darah, either slasher atau action. Rasanya nggak manusiawi banget nyari hiburan dengan liat orang tersiksa, menderita. Trus, kenapa gw pengen banget nonton ‘The Raid: Redemption’?

  1. Komentar kritikus film, skor di Rotten Tomatoes, IMDB oke semua.
  2. Bukan cuma kritikus, orang awam abis nonton ini juga pada komentar bagus.
  3. Ada Iko Uwais. *kedip-kedip malu* I’ve been a fan since he was still a curly-haired in Merantau.
Iko Uwais :3

Anyhow, gw udah denger semua komen tentang betapa gory-nya film ini. Sadistis gila-gilaan. Tapi gw tetep nonton. Ini kesan gw selama dan setelah nonton ‘The Raid: Redemption’.

  • Adegan awal bikin ‘bertanduk’ (in English). Iko Uwais as Rama sholat, trus memerankan suami yang baik dengan mengecup kening istrinya yang lagi hamil. The best part, dese yang humble dan nggak pernah pamer otot, di scene awal terlihat lagi latihan dan telanjang dada. TELANJANG DADA. Walau dari luar keliatan badannya kecil, ternyata itu perut kotak semua, lengan bertelor semua… *ngeces* Beruntungnya Jane Shalimar…
  • Nggak lama dari pemandangan seger tadi, udah masuk scene berdarah-darah aja. Tama (Ray Sahetapy) nembakin orang yang berbaris satu per satu. Tailah gw langsung self-censorship (tutup mata). Iif minta keluar di 30 menit pertama. Hahahaha… Tapi gw nggak mau. Rugi coy, gw bayar buat liat Iko.
  • Scene favorit gw: pas Andi (Donny Alamsyah) duet sama adiknya, Rama, mau ngabisin Mad Dog (Yayan Ruhiyan). Iko yang ganteng makin terlihat hot pas mraktekkin kemampuan pencak silatnya. Iif pun tersepona sama Donny. Gw juga takjub sama keahlian Mad Dog bela diri. Gw rasa dia punya 9 nyawa. Kagak mati-mati cuy.
  • Di akhir scene itu, Mad Dog akhirnya mati juga. Lehernya ditancepin lampu neon trus digorok. Puas karena Mad Dog tewas, penonton pada tepuk tangan. Termasuk gw. Hahaha…

Jadi, selama nonton gw:

  • Banyak tutup mata. Sungguh nggak tega ngeliat orang mati dengan cara kejam begitu.
  • Banyak dzikir: “Anjing!”, “Bangsat!”, “Tai!” saking tegangnya ni film.
  • Ngos-ngosan. Padahal ikut syuting aja kaga. Tapi beneran deh, gw sampe nahan nafas pas adegan tertentu, trus ikutan capek gitu.
  • Tapi, since gw tau pemeran utama nggak mati, apalagi bakal ada sekuelnya, gw tenang. Bang Iko ganteng masih ada kok di film selanjutnya. :*

Aftertastenya, keluar dari bioskop, gw:

  • Dengkul lemes
  • Gemeteran, saking serunya
  • Tiba-tiba pengen silat di busway. Iye, gw tau ini aneh.
Gw ngebayangin, gimana situasi pas syutingnya ya? I mean, with all those swift movements, explosion scenes, bloods…

Buat cewek-cewek yang nggak kuat nonton beginian, ada penghiburannya kok. Sosok Iko Uwais, Donny Alamsyah, dan Joe Taslim jadi eye candy di sini. Mana perannya jagoan baik hati semua… :3 Tenang aja, penjahat-penjahatnya pada mati kok, kecuali si pengkhianat Letnan Wahyu (Pierre Gruno).

"Hope is the only thing stronger than fear."

- The Hunger Games

Text

Note: tulisan ini mewakili opini dan pandangan gw pribadi. Kalau nggak setuju, silakan sampaikan dengan sopan di kolom komentar. Kalau nggak bisa, well, tulisan ini nggak wajib dibaca kok. :)

Hoah. Setelah seminggu lewat, rasa kantuk masih ada. Dan setelah seminggu lewat, gw baru sempet post review konser ini. Hehe.

Minggu (26/2), gw nonton The Greatest Hits Concert. Itu lho, yang ada Jeff Timmons dari 98 Degrees, A1, sama Blue. The main reason I was eager to watch it ya karena Bluenya. I was and am their fans.

Gw denger kabar Blue mau main ke sini kira-kira dari Desember 2011 kali ya (not sure though). I looked forward to the info ever since. And when the concert was officially announced, I barely couldn’t stand not being the first person to grab the tix. Tapi, as usual gw penuh pertimbangan dan nyari banyak info dulu. In the end, gw beli tiket H-seminggu. Why?

1. Promotornya (Mahkota Promotion) masih ijo bener

2. Venuenya pindah-pindah. Kalo nggak salah pertamanya di JCC, trus pindah ke Mata Elang International Stadium Ancol, abis itu terakhir di JIExpo. Setelah gw konsultasi sama temen-temen gw, gw akhirnya memutuskan beli belakangan setelah semuanya jelas. Gw juga punya feeling tiketnya nggak bakal cepet sold out sih. Selain itu, gw takut beli duluan trus uangnya dibawa kabur kayak kasus CN Blue…

Sambil nunggu beli, gw nyari temen. Susyehnya setengah mamfus. Ada yang maunya festival 2, ada yang udah keburu beli tiket konser lain, ada yang bilang kemahalan, ada yang nggak jelas kabarnya… Lagian, fans Blue, A1, dan Jeff Timmons ini nggak semasif fans Westlife.

Thank God The Almighty, karena gw sabar gw akhirnya bisa dapet tiket buy 1 get 1 free! Plus dapet temen bareng yang rumahnya deket. Jadinya festival 1 dengan harga 350 ribu! :’)

The holy ticket

Tapi, gw curiga lagi nih. Temen gw yang beliin tiket itu bilang ticket boxnya yang di Puri Indah Mal sepi bener. Padahal gw sempet khawatir nggak kebagian tiket soalnya dese berangkatnya kesiangan.

Trus, 2 hari kemudian gw nelpon kantor Mahkota Promotion untuk tanya cara tuker tiket sementara (voucher) jadi tiket asli. Lagi-lagi mencurigakan, karena pas gw telepon, teleponnya dioper-oper. Apalagi katanya kantornya tanpa plang Mahkota Promotion. Konon, mereka gabung dengan Crystal Travel di Tebet. Gw was-was, semoga konsernya beneran ada…

Finally, the D-day. Gw dapet info penukaran tiket on the spot mulai jam 15.00, open gate jam 18.00, konser start jam 20.00. Kita memutuskan jalan jam 3. And all of a sudden, rain poured hard. Gw ngontak temen barengan gw and the thunderbolts sounded even scarier… She suddenly said she wasn’t allowed to go.

How could I go on without her? Gosh, I couldn’t even imagine it. So I called her right away. After a small talk, I figured out that her mom didn’t allow her because of the weather, not the concert itself. -_-‘

So we left for JIExpo at 4 pm. Afraid of being late, we took a taxi. Everything went smoothly and we got there 40 minutes later. Seems legit, eh?

We went straight to the venue. Weren’t much people there. There was only a 5 metres queue. I ain’t jokin’, bro. So we exchanged the voucher with real tickets, wandered around, had some early dinner, went to the restroom, took photographs, then went back queuing. There were more people who had stood in line, but I was sure I still could get the front row.

Happiness undescribable

Tick tock tick tock. It was 6 pm already and the gate had yet not be opened.

Tick tock tick tock tick tock. 6.30. I sat on the floor just like others to save some energy.

And the gate was opened at 7.30. Fuck, eh?

Said the concert would be started on 8, it was delayed until 8.40.

Jeff Timmons opened the show. He performed some of 98 Degrees’ best hits like ‘Because of You’, ‘Give Me Just One Night’, and ‘I Do’. At the two latter, he asked some people to get on stage. Here some girls went wild, with one of ‘em buttoned off Jeff’s shirt so that sexy tanned abs (and big boobs) became public consumption.

Slurpy packs

The most enviable moment was when Jeff asked a girl on stage while he was singing I Do. You know, that proposal serenade. I ain’t one of his fans, but who can resist be deeply stared at by that blue eyes? And feel the warmth (and sweat, urgh) of his embrace, for free? Aaarrrggghhh I wish I were that lucky gal…

Jeff was smokin’ hot as an opening act. Dia banyak berinteraksi dengan penonton, mulai dari ngajak nyanyi bareng, mendatangi penonton barisan paling depan, sampai peluk-peluk penonton di atas panggung. *ngeces*

Sekitar 40 menit kemudian, gantian A1 yang tampil. Gw pernah beli kaset (duilee kaset! Ketauan kapan gw belinya. :p) A1 yang Greatest Hits, jadi gw lumayan hafal beberapa lagunya. Mereka bawain lagu penuh, medley beberapa hits terbaik mereka, dan cover lagu populer macem ‘Poker Face’ dan ‘I Gotta Feeling’.

Christian, Ben, and Mark were on stage

Anyway, since gw bahagia bener bisa nostalgila boyband, gw nyanyi heboh semua lagu yang gw hafal. Eh pas ‘One More Try’, muka gw diclose up n muncul di layar di panggung. Ngahaha… Muka gw muncul beberapa kali lagi di tengah keramaian karena gw berdiri di tengah depan. And, lagi-lagi karena gw nyanyi terus, Ben stared at me while singing and he flew me a kiss! Demi Tuhan, ke arah gw! Gw dengan bahagianya kiss him back. Gyahaha…

A1, yang sekarang cuma 3 orang karena ditinggal Paul, pada dasarnya nggak boyband-boyband amat. They’re handsome indeed, they did dance, but Christian plays guitar and Mark does keyboard. Mereka cuma ngedance di 1 lagu kemarin, ‘Ready Or Not’ (itu pun dance cemen).

Pas konser, mereka tampil dengan live band. Atraktif, interaktif, tapi nggak obral murah kayak performer sebelumnya (peace! :p). Mereka sering dadahin fans, terutama Ben yang nyanyi doang. Nggak pelit senyum, ngajak ngobrol (aaah that sexy British accent…). Best part, Mark ngomong ‘terima kasih’ dan ‘aku cinta kalian’. That was a simple plus point. :)

Trus, Ben juga sempet ngajak 1 fans ke atas panggung untuk dikasih mawar pas lagu ‘Like A Rose’. Tapi dia cuma rangkul dan cipika-cipiki sedikit. Ah, si cewek kurang bisa memanfaatkan momen.

Kaki berwedges 10 cm ini sudah berkonde di betisnya saat the reason why I came here was on stage.

BLUE!!!

Panggung remang-remang dan berasap ketika mereka bikin formasi di panggung. ‘Sorry Seems to be The Hardest Words’ was their first song. They were all pake jas.

Gosh, micnya my darling Lee mati. Padahal tadi udah ada persiapan panggung lama. Dese keliatan banget betenya. Instead of keep singing, dia malah diem aja. Penonton bantuin nyanyi. Honestly, tindakan dia nggak nunjukkin profesionalitas. :(

 

My Lee

So setelah mic Lee diganti (tetep suaranya kecil), they kept rolling with their best hits like ‘Breathe Easy’, ‘Too Close’, ‘All Rise’, dan ‘One Love’. Gw hafal semua lagu yang dibawain. Haha. Mereka sempet ganti baju casual pas lagunya funky.

These daddies stayed as hot as 10 years ago

Sebagai performer yang paling ditunggu-tunggu, menurut gw secara obyektif, Blue mengecewakan. Mereka kurang interaktif. Gw dadah-dadah dan Lee jelas-jelas ngeliat itu, tapi dia cuma diem menatap tajam. Senyum pun nggak. Duncan, Simon, dan Anthony juga sama aja. Tampangnya bete semua. Too cool (Arwana). Well, Simon did nyamperin penonton di kanan depan, Lee juga tapi ke sebelah kiri. Tapi ya gitu aja (sewot nggak disamperin).

They ended the night by singing ‘One Love’, trus ada semacam air mancur kertas-kertas gitu. Karena terlalu cepet dan nggak berkesan, we stood still, screaming we wanted more. Kamera dan lighting pun masih nyala, tapi mic udah dipinggirin. Temen gw bilang, udah selesai kali. Gw bilang, nggak mungkin.

Time flew and still there was no clue whether it was ended or not. Karena capek digantungin (lah kok jadi galau), penonton satu per satu bubar. So did me and my friend. Kecewa.

Penampilan Blue sebentar banget, nggak selama A1. Udah gitu mereka kebanyakan ke backstage. Mana tampangnya bete semua… :( Mungkin, mereka kecapekan karena siangnya baru sampe di Jakarta, abis dari Manila. Mungkin, mereka kecewa yang nonton cuma setengah hall. Ya salahin promotornya kurang promosi. Acara selesai jam 23.30.

Hal yang bisa gw simpulkan adalah they were still as hot as the younger them. Physically still young, beda sama Westlife yang pada gemukan. Hahaha… Padahal beberapa (apa semuanya?) udah kepala 3, some were proud daddies.

Tapi menurut gw A1 was the best performer. Gw jadi kangen lagu-lagu mereka… *brb donlod bajakan* Setelah konser, gw pantau twitter mereka semua, mulai dari Twitter personal Blue, A1, Jeff, sampe tweet officialnya. Almost nothing related to their show in Jakarta. Sangat tidak mengesankan, eh? Paling Ben dan Mark yang ngetweet sebelum show. Semuanya terlihat lebih antusias di Manila dan Singapura. :( Makassar apa kabar ya?

Kesimpulan: konser itu sangat melelahkan mas bro mbak sis. You gotta stand for hours, desak-desakan, nunggu. Tapi kalo ngefans banget sama artisnya, semuanya akan terbayar. Akan ada perasaan bahagia dan puas, apalagi kalo performancenya dan hal-hal pendukungnya oke. In my case, it was moderate lah.

"Not to grow old is to die young."

- Annette Larkins, an ageless grandma

"Do not fear perfection. You will never achieve it."

- Salvador Dali, pelukis asal Spanyol

"… It’s hip to be happy. To give life a big hello… To say yes when the world says no… The light is green. Come on, let’s go!"

- ‘Hip to be Happy’ by Ann Hampton Callaway. Such a motivating lyric and song, ain’t it? For full version, read here http://www.lyricstime.com/ann-hampton-callaway-hip-to-be-happy-lyrics.html.

Text

Bayangkan situasi ini:

Setting: Jalan raya yang nggak terlalu lebar, jalan dekat pemukiman lah, biasa dilalui macem-macem kendaraan

Scene 1: Ada mobil mau puter balik atau mau masuk ke rumah yang berada di pinggir jalan, tapi lama karena jalannya agak sempit

Scene 2: Mobil dan motor berbaris, menunggu mobil itu selesai puter balik atau masuk ke garasi

Scene 3: Barisan semakin panjang seiring semakin lamanya si mobil berputar atau belok

Scene 4: Terlihat mobil dan motor paling depan menunggu dengan sabar, sementara kendaraan di belakang sudah berkali-kali memencet klakson, si supir misuh-misuh

…..

Kita bisa lihat bahwa orang yang tahu duduk perkara kenapa jalanan jadi macet, diam saja. Sebaliknya, orang yang nggak tahu apa-apa justru ribut.

Ini persoalan jalan yang bisa diterapkan secara luas. Kadang, orang-orang langsung berteriak, marah, menuntut, mengutuk, menuduh tanpa berusaha memahami apa akar masalahnya.

Semakin kita mencari tahu dan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, semakin otak kita bekerja, meramu dan menyimpulkan solusi yang akan dikeluarkan lewat mulut dengan cara yang santun.

Namun, jika kita hanya melihat masalah dari permukaan tanpa ada usaha lebih lanjut, otak diam saja, mulutlah yang bekerja. Bagus kalau yang kita teriakkan memang benar adanya. Nah kalau sudah marah-marah ternyata salah? Malu dong…

- Buncit Indah, 11 Januari 2012. Hasil renungan di angkutan umum oleh Fitria Rahmadianti.

9gag:

(via 9GAG - Every single time.)

9gag:

(via 9GAG - Every single time.)

Source: 9GAG

Ah yeah… :D
9gag:

Just awesome t-shirt

Ah yeah… :D

9gag:

Just awesome t-shirt

Source: 9gag

Text

Kalau yang dimaksud dengan ‘benar-benar suci’ atau ‘benar-benar perawan’ adalah bagian tubuh tertentu (misalnya bokong, area vital, dan dada) nggak pernah sama sekali disentuh/tersentuh/berhimpitan dengan lawan jenis yang bukan muhrim, meski berlapis kain sekalipun nggak pernah, maka penumpang angkutan umum di Jakarta nggak ada yang suci, nggak ada yang perawan. Sekian.

Oh, buat yang nggak ngerti, ini bentuk sinisme terhadap angkutan umum di Jakarta kok.